NAMA : SYAFA ALHIMAM ARTA
NIM :
11180510000134
KELAS :
KPI D
SEMESTER
: 1
Pengalaman Ke Museum Lubang Buaya yang “Katanya” Mirip Rumah Hantu
Sebelum kami berangkat, saya bersama teman-teman berjanji untuk kumpul di halte UIN pada jam 9 pagi, yang pada kenyataannya banyak teman-teman yang belum kumpul. Sembari menunggu anak-anak yang belum datang, saya menyempatkan untuk pergi ke minimarket untuk membeli makanan sebatas pengganjal lapar, karena memang belum sempat sarapan. Setelah anggota kami lengkap, kami langsung berangkat ke terminal Kampung Rambutan menggunakan Transjakarta. Sampai disana kami disambut dengan supir-supir angkot yang seolah-olah haus akan penumpang. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan naik angkot dari terminal ke museum.
Setelah
sampai disana kami melihat gapura besar yang bertuliskan “MONUMEN PANCASILA
SAKTI”. Bagi saya ini adalah kali pertama datang ke museum ini, kami berjalan
beberapa ratus meter dari gapura sampai ke pos pintu masuk untuk membayar
tiket. Harga yang ditawarkan cukup murah, yaitu Rp.4000 tiap orang dewasa.
Karena kami bersembilan, kami patungan untuk membayar tiket itu. Kemudian kami
berjalan lagi beberapa ratus meter sampai ke mushola dekat tempat parkir.
Disana kami menemui teman kami yang kebetulan sudah berangkat duluan ke museum
karena memang jarak antara rumahnya dan museum tergolong dekat. Setelah kami
berkumpul didepan mushola kami mulai melanjutkan perjalanan kedalam area
museum. Disana terlihat halaman yang sangat luas dengan air mancur di
tengah-tengahnya yang ukurannya melebihi pintu masuk.
Kami
memulai perjalanan ke sumur “Lubang Buaya” yang memang telah menjadi tempat
favorit pengunjung. Sumur ini dikelilingi oleh pagar marmer dan beratap genteng
yang mirip dengan bangunan-bangunan khas jawa. Kemudian kami sempat berfoto
dibawah monumen Pancasila yang jaraknya tidak jauh dari sumur. Setelah asyik
berfoto kami langsung menuju rumah penyiksaan yang berada tepat disamping sumur
maut. Didalamnya disuguhkan diorama penyiksaan jendral-jendral oleh anggota PKI,
terdapat juga patung lilin anggota Gerwani yang menari dan ada pula yang
seolah-olah berteriak dengan membawa kayu. Diorama ini juga memiliki fasilitas
pengeras suara yang memutar suara narator yang sedang menjelaskan peristiwa
penyiksaan.
Kemudian
saya bersama teman-teman melanjutkan perjalanan ke Paseban yang terletak didekat
pintu masuk kami. Didalamnya terdapat diorama-diorama rentetan peristiwa
pemberontakan anggota Komunis di Indonesia, dan melanjutkan ke Museum
Penghianatan PKI (Komunis). Kami pun menyadari bahwa sebenarnya kami salah
mengambil jalur, yang sehaurusnya ke Museum Penghianatan PKI dulu baru ke
Paseban, tetapi kami melakukan yang sebaliknya. Saya melihat sekilas didepan
museum penghianatan ini karena merasa aneh, diluar gedung terdapat gaya-gaya
jendela yang ukurannya sangat besar bercat oranye yang mana itu memang bukanlah
jendela, tetapi sekedar desain gedung yang saya pikir konyol saja.
Setelah
mengelilingi museum penghianatan PKI. Kami menyadari bahwa kita melewatkan
tempat relik yang didalamnya terdapat pakaian-pakaian korban G/30/S/PKI.
Akhirnya kami masuk lagi kegedung Paseban dan berbelok kearah kanan dan
terdapat ruangan kosong dan terdapat petugas didalamnya. Salah satu teman saya
bertanya kepegas berbaju putih itu.
“Pak
ini bisa dimasukkin?” Tanya teman saya
“Oh
iya dek, masuk aja!” Jawabnya
Kami pun masuk dan terdapat 2
ruangan yang berhadap-hadapan. Kami memasuki ruang relik terlebih hulu.
Didalamnya terdapat banyak koleksi pakaian asli korban dan barang pribadi,
serta alat-alat yang berhubungan dengan pengangkatan jenazah jendral-jendral.
Terdapat pula detail visum jendral-jendral “versi pemerintah orde baru”.
Selepas itu kami melanjutkan ke ruang pameran foto yang berada tepat didepan
ruang relik. Didalamnya terdapat rentetan foto-foto penemuan sumur hingga
pemakaman para jendral. Selesai melihat-lihat akhirnya kami keluar dari kedua
ruang tersebut dan diluar gedung terdapat semacam tank panzer yang digunakan
untuk mengarak jenazah para jendral.
Setelah
berputar-putar mengelilingi seluruh museum, kami melanjutkan perjalanan keluar
dan mampir untuk makan di tempat parkiran. Hujan pun turun dan terpaksa kami
harus menunggu sampai reda. Sehabis hujan reda kami pulang melewati jalan yang
sama, menaiki angkot dan bus Transjakarta dengan jurusan yang sama. Bedanya
kali ini agak sumpek karena banyak penumpang berebut angkot usai mendatangi
acara Ustazd Abdul Somad di masjid dekat TMII, ditambah lagi suasana usai hujan
yang menambah suasana makin jenuh. Akhirnya kami tiba di Ciputat kira-kira
menjelang maghrib dengan cuaca hujan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar