Senin, 17 Desember 2018

NAMA          : SYAFA ALHIMAM ARTA           
NIM              : 11180510000134
KELAS         : KPI D
SEMESTER : 1

Pengalaman Ke Museum Lubang Buaya yang “Katanya” Mirip Rumah Hantu

Sebelum kami berangkat, saya bersama teman-teman berjanji untuk kumpul di halte UIN pada jam 9 pagi, yang pada kenyataannya banyak teman-teman yang belum kumpul. Sembari menunggu anak-anak yang belum datang, saya menyempatkan untuk pergi ke minimarket untuk membeli makanan sebatas pengganjal lapar, karena memang belum sempat sarapan. Setelah anggota kami lengkap, kami langsung berangkat ke terminal Kampung Rambutan menggunakan Transjakarta. Sampai disana kami disambut dengan supir-supir angkot yang seolah-olah haus akan penumpang. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan naik angkot dari terminal ke museum.
Setelah sampai disana kami melihat gapura besar yang bertuliskan “MONUMEN PANCASILA SAKTI”. Bagi saya ini adalah kali pertama datang ke museum ini, kami berjalan beberapa ratus meter dari gapura sampai ke pos pintu masuk untuk membayar tiket. Harga yang ditawarkan cukup murah, yaitu Rp.4000 tiap orang dewasa. Karena kami bersembilan, kami patungan untuk membayar tiket itu. Kemudian kami berjalan lagi beberapa ratus meter sampai ke mushola dekat tempat parkir. Disana kami menemui teman kami yang kebetulan sudah berangkat duluan ke museum karena memang jarak antara rumahnya dan museum tergolong dekat. Setelah kami berkumpul didepan mushola kami mulai melanjutkan perjalanan kedalam area museum. Disana terlihat halaman yang sangat luas dengan air mancur di tengah-tengahnya yang ukurannya melebihi pintu masuk.
Kami memulai perjalanan ke sumur “Lubang Buaya” yang memang telah menjadi tempat favorit pengunjung. Sumur ini dikelilingi oleh pagar marmer dan beratap genteng yang mirip dengan bangunan-bangunan khas jawa. Kemudian kami sempat berfoto dibawah monumen Pancasila yang jaraknya tidak jauh dari sumur. Setelah asyik berfoto kami langsung menuju rumah penyiksaan yang berada tepat disamping sumur maut. Didalamnya disuguhkan diorama penyiksaan jendral-jendral oleh anggota PKI, terdapat juga patung lilin anggota Gerwani yang menari dan ada pula yang seolah-olah berteriak dengan membawa kayu. Diorama ini juga memiliki fasilitas pengeras suara yang memutar suara narator yang sedang menjelaskan peristiwa penyiksaan.
Kemudian saya bersama teman-teman melanjutkan perjalanan ke Paseban yang terletak didekat pintu masuk kami. Didalamnya terdapat diorama-diorama rentetan peristiwa pemberontakan anggota Komunis di Indonesia, dan melanjutkan ke Museum Penghianatan PKI (Komunis). Kami pun menyadari bahwa sebenarnya kami salah mengambil jalur, yang sehaurusnya ke Museum Penghianatan PKI dulu baru ke Paseban, tetapi kami melakukan yang sebaliknya. Saya melihat sekilas didepan museum penghianatan ini karena merasa aneh, diluar gedung terdapat gaya-gaya jendela yang ukurannya sangat besar bercat oranye yang mana itu memang bukanlah jendela, tetapi sekedar desain gedung yang saya pikir konyol saja.
Setelah mengelilingi museum penghianatan PKI. Kami menyadari bahwa kita melewatkan tempat relik yang didalamnya terdapat pakaian-pakaian korban G/30/S/PKI. Akhirnya kami masuk lagi kegedung Paseban dan berbelok kearah kanan dan terdapat ruangan kosong dan terdapat petugas didalamnya. Salah satu teman saya bertanya kepegas berbaju putih itu.
“Pak ini bisa dimasukkin?” Tanya teman saya
“Oh iya dek, masuk aja!” Jawabnya
            Kami pun masuk dan terdapat 2 ruangan yang berhadap-hadapan. Kami memasuki ruang relik terlebih hulu. Didalamnya terdapat banyak koleksi pakaian asli korban dan barang pribadi, serta alat-alat yang berhubungan dengan pengangkatan jenazah jendral-jendral. Terdapat pula detail visum jendral-jendral “versi pemerintah orde baru”. Selepas itu kami melanjutkan ke ruang pameran foto yang berada tepat didepan ruang relik. Didalamnya terdapat rentetan foto-foto penemuan sumur hingga pemakaman para jendral. Selesai melihat-lihat akhirnya kami keluar dari kedua ruang tersebut dan diluar gedung terdapat semacam tank panzer yang digunakan untuk mengarak jenazah para jendral.

Setelah berputar-putar mengelilingi seluruh museum, kami melanjutkan perjalanan keluar dan mampir untuk makan di tempat parkiran. Hujan pun turun dan terpaksa kami harus menunggu sampai reda. Sehabis hujan reda kami pulang melewati jalan yang sama, menaiki angkot dan bus Transjakarta dengan jurusan yang sama. Bedanya kali ini agak sumpek karena banyak penumpang berebut angkot usai mendatangi acara Ustazd Abdul Somad di masjid dekat TMII, ditambah lagi suasana usai hujan yang menambah suasana makin jenuh. Akhirnya kami tiba di Ciputat kira-kira menjelang maghrib dengan cuaca hujan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar